
Power of Life Trijaya FM
Konsultasi paling banyak diintip pengusaha !
Arsip Blog
Guru pertama bagi setiap manusia adalah ibu, dan pelajaran pertama yang
kita pelajari dari ibu kita masing-masing adalah kasih sayang. Rasa haus,
lapar, sakit, gatal atau apapun, hanya disikapi oleh bayi-bayi mungil
dengan menangis. Dan setiap ibu paham, apa arti tangis bayi mereka!
Keteduhan kasih sayangnya, mengubah tangis jadi senyuman.
Sayangnya, semakin bertambahnya waktu, pelajaran yang kita terima semakin
jauh dari nilai-nilai kasih sayang. Kelembutan dan kasih sayang ibu,
semakin terlupakan. Yang setiap hari didengar, dilihat dan dibaca adalah
berita kekerasan dan sejenisnya. Pembunuhan, perang, terorisme, sudah
menjadi berita sehari-hari. Dan dampaknya bisa kita rasakan di hari-hari
belakangan ini.
Ini riset sederhana di sebuah Pengadilan Negeri di tanah air. 90 persen
perkara yang ditangani di Pengadilan Negeri, adalah perkara perdata. 90
persen dari perkara perdata itu, adalah gugatan perceraian.Jika kita
menilik perkara-perkara perceraian dua atau tiga dasawarsa ke belakang,
sebagian besar dilakukan oleh pihak suami. Bedanya saat ini, percaya atau
tidak, penggugat perceraian mayoritas adalah dari pihak perempuan.Ini
fenomena menarik. Inilah sebuah bukti bahwa kedudukan kaum perempuan sudah
tidak lagi di belakang laki-laki. Pertanyaannya, ini pertanda apa?Feminin
sudah semakin ditinggalkan. Dulu maskulin dimiliki mayoritas laki-laki dan
feminin dimiliki mayoritas perempuan. Kini, laki-laki dan perempuan
sama-sama ingin menunjukkan maskulinitasnya. Bahkan dalam beberapa hal,
perempuan bisa lebih powerful dari lawan jenisnya.
Kini kita berhadapan dengan dunia yang semakin maskulin. Kekerasan
sepertinya jadi semakin menonjol, bukan hanya di level lokal, tapi juga
regional maupun internasional. Bukan cuma oleh laki-laki, tetapi juga oleh
para perempuan. Perhatikan gaya para pemimpin dunia saat ini, yang
cenderung ingin menyelesaikan perselisihan antar negara dengan senjata.
Jangan heran, dunia semakin panas.
Di sisi lain, ternyata manusia-manusia modern merindukan
keteduhan-keteduhan seperti pola pengasuhan seorang ibu. Ada fenomena
menarik. Sejak awal tahun 2000an, perusahaan-perusahaan besar di dunia,
mengalihkan metode pelatihannya ke hal-hal yang berbau spiritual. Mereka
tidak lagi mengundang motivator yang meledak-ledak seperti Anthony
Robbins, tetapi justru mengundang spiritualis Budha seperti Dalai Lama
atau Thick Nath Hahn.
Berbeda dengan pelatihan motivasi yang hiruk-pikuk, para spiritualis itu
bicara dengan suara lemah. Uniknya, pembicaraan mereka didengar seksama.
Kelemah-lembutan mereka sungguh menyentuh hati. Tak sedikit audiens yang
berurai air mata.
Mungkin saya salah. Tapi inilah trend masa kini. Di Amerika, Obama lebih
dipilih daripada Mc Cain. Di Inggris,Gordon Brown harus ‘mengalah’ dari
David Cameron. Di Indonesia, SBY - Budiyono bisa mengalahkan dua kandidat
lain.
So, jika mau mengambil hati masyarakat, lupakan cara-cara kekerasan.
Kembalilah ke pelajaran pertama dari ibu kita. Kelemah-lembutan akan lebih
mengundang simpati. Itulah inner power yang powerful. TERBUKTI!
(Sudah dimuat di rubrik LHO Majalah Khalifah Edisi Juli 2010)
Leave a Reply