<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>zainalabidin</title>
	<atom:link href="http://zainalabidin.niriah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zainalabidin.niriah.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 22:55:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Inner Power</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/inner-power/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/inner-power/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 22:54:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/inner-power/</guid>
		<description><![CDATA[Guru pertama bagi setiap manusia adalah ibu, dan pelajaran pertama yang
kita pelajari dari ibu kita masing-masing adalah kasih sayang. Rasa haus,
lapar, sakit, gatal atau apapun, hanya disikapi oleh bayi-bayi mungil
dengan menangis. Dan setiap ibu paham, apa arti tangis bayi mereka!
Keteduhan kasih sayangnya, mengubah tangis jadi senyuman.
Sayangnya, semakin bertambahnya waktu, pelajaran yang kita terima semakin
jauh dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Guru pertama bagi setiap manusia adalah ibu, dan pelajaran pertama yang<br />
kita pelajari dari ibu kita masing-masing adalah kasih sayang. Rasa haus,<br />
lapar, sakit, gatal atau apapun, hanya disikapi oleh bayi-bayi mungil<br />
dengan menangis. Dan setiap ibu paham, apa arti tangis bayi mereka!<br />
Keteduhan kasih sayangnya, mengubah tangis jadi senyuman.<span id="more-96"></span></p>
<p>Sayangnya, semakin bertambahnya waktu, pelajaran yang kita terima semakin<br />
jauh dari nilai-nilai kasih sayang. Kelembutan dan kasih sayang ibu,<br />
semakin terlupakan. Yang setiap hari didengar, dilihat dan dibaca adalah<br />
berita kekerasan dan sejenisnya. Pembunuhan, perang, terorisme, sudah<br />
menjadi berita sehari-hari. Dan dampaknya bisa kita rasakan di hari-hari<br />
belakangan ini.</p>
<p>Ini riset sederhana di sebuah Pengadilan Negeri di tanah air. 90 persen<br />
perkara yang ditangani di Pengadilan Negeri, adalah perkara perdata. 90<br />
persen dari perkara perdata itu, adalah gugatan perceraian.Jika kita<br />
menilik perkara-perkara perceraian dua atau tiga dasawarsa ke belakang,<br />
sebagian besar dilakukan oleh pihak suami. Bedanya saat ini, percaya atau<br />
tidak, penggugat perceraian mayoritas adalah dari pihak perempuan.Ini<br />
fenomena menarik. Inilah sebuah bukti bahwa kedudukan kaum perempuan sudah<br />
tidak lagi di belakang laki-laki. Pertanyaannya, ini pertanda apa?Feminin<br />
sudah semakin ditinggalkan. Dulu maskulin dimiliki mayoritas laki-laki dan<br />
feminin dimiliki mayoritas perempuan. Kini, laki-laki dan perempuan<br />
sama-sama ingin menunjukkan maskulinitasnya. Bahkan dalam beberapa hal,<br />
perempuan bisa lebih powerful dari lawan jenisnya.</p>
<p>Kini kita berhadapan dengan dunia yang semakin maskulin. Kekerasan<br />
sepertinya jadi semakin menonjol, bukan hanya di level lokal, tapi juga<br />
regional maupun internasional. Bukan cuma oleh laki-laki, tetapi juga oleh<br />
para perempuan. Perhatikan gaya para pemimpin dunia saat ini, yang<br />
cenderung ingin menyelesaikan perselisihan antar negara dengan senjata.<br />
Jangan heran, dunia semakin panas.</p>
<p>Di sisi lain, ternyata manusia-manusia modern merindukan<br />
keteduhan-keteduhan seperti pola pengasuhan seorang ibu. Ada fenomena<br />
menarik. Sejak awal tahun 2000an, perusahaan-perusahaan besar di dunia,<br />
mengalihkan metode pelatihannya ke hal-hal yang berbau spiritual. Mereka<br />
tidak lagi mengundang motivator yang meledak-ledak seperti Anthony<br />
Robbins, tetapi justru mengundang spiritualis Budha seperti Dalai Lama<br />
atau Thick Nath Hahn.</p>
<p>Berbeda dengan pelatihan motivasi yang hiruk-pikuk, para spiritualis itu<br />
bicara dengan suara lemah. Uniknya, pembicaraan mereka didengar seksama.<br />
Kelemah-lembutan mereka sungguh menyentuh hati. Tak sedikit audiens yang<br />
berurai air mata.</p>
<p>Mungkin saya salah. Tapi inilah trend masa kini. Di Amerika, Obama lebih<br />
dipilih daripada Mc Cain. Di Inggris,Gordon Brown harus &#8216;mengalah&#8217; dari<br />
David Cameron. Di Indonesia, SBY - Budiyono bisa mengalahkan dua kandidat<br />
lain.</p>
<p>So, jika mau mengambil hati masyarakat, lupakan cara-cara kekerasan.<br />
Kembalilah ke pelajaran pertama dari ibu kita. Kelemah-lembutan akan lebih<br />
mengundang simpati. Itulah inner power yang powerful. TERBUKTI!</p>
<p>(Sudah dimuat di rubrik LHO Majalah Khalifah Edisi Juli 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/inner-power/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Filosofi Masker Udara</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/filosofi-masker-udara/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/filosofi-masker-udara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 09:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/filosofi-masker-udara/</guid>
		<description><![CDATA[”&#8230;&#8230;. Apabila tekanan udara di dalam kabin berkurang secara tiba-tiba, masker oksigen akan keluar secara otomatis dari tempatnya sehingga terjangkau. Tetaplah duduk dan kenakan sabuk pengaman. Tarik masker ke arah anda untuk mengalirkan oksigen. Pasang masker menutupi mulut dan hidung, kalungkan talinya di kepala dan bernafaslah seperti biasa. Bagi anda yang bepergian bersama orang tua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>”&#8230;&#8230;. Apabila tekanan udara di dalam kabin berkurang secara tiba-tiba, masker oksigen akan keluar secara otomatis dari tempatnya sehingga terjangkau. Tetaplah duduk dan kenakan sabuk pengaman. Tarik masker ke arah anda untuk mengalirkan oksigen. Pasang masker menutupi mulut dan hidung, kalungkan talinya di kepala dan bernafaslah seperti biasa. Bagi anda yang bepergian bersama orang tua dan atau anak-anak, pakailah masker anda terlebih dahulu sebelum anda menolong yang lainnya.”<span id="more-93"></span></p>
<p>Mereka yang sering bepergian dengan pesawat terbang pasti familiar dengan pesan ini. Ada serentetan pesan lain yang disampaikan oleh para awak pesawat, yang keseluruhannya harus selalu diumumkan sebelum pesawat tinggal landas, sebagai bagian dari aturan keselamatan penerbangan sipil.</p>
<p>Awalnya, ada pertanyaan dalam hati, mengapa ada kalimat : pakai masker anda terlebih dahulu sebelum menolong yang lainnya. Yang saya pikirkan, anjuran itu mengarahkan semua penumpang untuk egois! Para penumpang diminta untuk menyelamatkan dirinya sendiri!</p>
<p>Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh seorang kawan yang bekerja sebagai mekanik pesawat. Intinya, dalam kondisi darurat seperti itu, kemungkinan paling buruk adalah kadar oksigen di dalam kabin menurun drastis. Jika itu terjadi, dalam waktu singkat seseorang bisa mengalami kesulitan bernafas. Akibatnya, ia tidak mampu melakukan aktifitas normal.</p>
<p>Bayangkan bila seseorang mendahulukan menolong orang lain yang kondisinya lemah (anak-anak dan atau orang tua). Dikhawatirkan orang yang berniat baik itu justru kehabisan oksigen dan orang yang ditolong tidak mampu menyelamatkannya. Orang yang ditolong mungkin bisa selamat. Tetapi keselamatan dirinya sendiri terancam. Itulah sebabnya, ia harus menolong dirinya sendiri, agar mampu menolong orang lain!</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari, filosofi masker udara seringkali menjadi panduan saya bertindak. Aktifitas mengentaskan para pengangguran dari kemiskinan sistemik, mengharuskan saya dan juga aktivis lain di Institut Kemandirian, untuk memiliki kekuatan ekonomi mandiri. Jangan sampai ada konflik kepentingan, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk mengentaskan orang lain, justru dipakai untuk kepentingan sendiri.</p>
<p>Banyak jalan menuju Roma, begitu kata pepatah. Tentu saja tidak bisa dibantah. Banyak cara juga untuk menolong orang miskin. Dari sekian banyak cara, langkah awal yang paling efektif untuk kita lakukan adalah tidak menjadi orang miskin. Dengan tidak menjadi orang miskin, setidaknya kita sudah mengurangi jumlah orang miskin. Implikasinya, sejumlah bantuan bisa diberikan pada mereka, minus jatah kita.</p>
<p>(Sudah dimuat di rubrik Inspirasi, harian Semarang tanggal 19 Juni 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/filosofi-masker-udara/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejuta Maaf Kepada para Anggota Parlemen, Menteri-menteri dan Presiden</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/sejuta-maaf-kepada-para-anggota-parlemen-menteri-menteri-dan-presiden/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/sejuta-maaf-kepada-para-anggota-parlemen-menteri-menteri-dan-presiden/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 22:59:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/sejuta-maaf-kepada-para-anggota-parlemen-menteri-menteri-dan-presiden/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang kawan memperkenalkan saya dengannya. Namanya Adib. Penampilannya sederhana. Jauh dari kesan sombong. Ia tinggal di sebuah desa di Banyumas. Ketika bertemu, ia tengah mendampingi dua orang turis Korea Selatan yang sedang belajar dan merasakan kehidupan pedesaan. Rupanya, sahabat baru ini, lewat lembaga yang dipimpinnya, punya aktivitas menggaet turis dari mancanegara untuk belajar dan beraktivitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang kawan memperkenalkan saya dengannya. Namanya Adib. Penampilannya sederhana. Jauh dari kesan sombong. Ia tinggal di sebuah desa di Banyumas. Ketika bertemu, ia tengah mendampingi dua orang turis Korea Selatan yang sedang belajar dan merasakan kehidupan pedesaan. Rupanya, sahabat baru ini, lewat lembaga yang dipimpinnya, punya aktivitas menggaet turis dari mancanegara untuk belajar dan beraktivitas di desa itu. Dari kegiatan itu, ia dan kawan-kawannya tengah membangun sebuah gedung yang cukup megah untuk pusat kegiatan pemberdayaan masyarakat di situ.<span id="more-91"></span></p>
<p>Pada kali lain, kami dipertemukan kembali pada sebuah acara paguyuban masyarakat desa sekitar hutan di Jawa Tengah. Saat itu, saya diundang sebagai salah satu pembicara. Dari banyak peserta pertemuan, saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa perannya dalam pemberdayaan masyarakat tepi hutan sangat lah besar. Ia aktif dalam kegiatan pemberantasan buta huruf. Ia menginisiasi pendirian perpustakaan desa. Ia terlibat intens dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bukan hanya dalam lingkup desa, tetapi sudah pada level propinsi. Ia salah satu pengurus Kelompok Tani Hutan.</p>
<p>Pertemuan kami berikutnya, adalah pada rapat koordinasi yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Layanan Khusus. Saya mewakili Institut Kemandirian. Rupa-rupanya, Adib juga menjadi pimpinan sebuah komunitas yang concern pada pendidikan anak-anak jalanan. Di sebuah padepokan sederhana di kota Purwokerto, komunitas itu mendidik sejumlah anak-anak jalanan dengan berbagai bidang kecakapan hidup. Anak-anak jalanan itu digembleng di Komunitas Rumah Simbah, Purwokerto.</p>
<p>Sekali waktu, Adib menelepon saya. Ia minta izin mengajak beberapa kawannya yang aktif dalam kegiatan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) berkunjung ke Institut Kemandirian. Ternyata ia datang dengan satu bus berkapasitas 50an orang. Sekali lagi saya melihat sisi lain seorang Adib. Ia juga aktif di organisasi PKBM di Jawa Tengah.</p>
<p>Sampai saat ini kami sering saling kontak, bahkan saling kunjung. Beberapa kali, dalam kesempatan saya bertandang ke Purwokerto, saya menyambanginya. Dan saya saksikan sendiri, ia tidak hanya bicara. Cukup banyak perubahan yang ia lakukan di desa. Kalau ia ke Jakarta pun, ia sering kontak dan mampir ke kantor.</p>
<p>Dalam suatu kesempatan saya pernah berucap padanya. &#8220;Mas. Dengan sepenuh kesadaran saya, saya merasa bahwa masyarakat desa di Indonesia lebih membutuhkan sampeyan daripada para anggota parlemen atau para pejabat negara. Tanpa orang-orang yang kita pilih lewat pemilu berbiaya besar itu, kegiatan yang sampeyan lakukan, insya Allah akan terus berjalan. Tapi tanpa sampeyan, bisa jadi masyarakat yang sampeyan urus akan merasa seperti anak ayam kehilangan induk. Untuk masyarakat yang sampeyan ayomi, mas Adib lebih penting ketimbang anggota parlemen, anggota kabinet bahkan presiden sekalipun. Bahkan, seringkali keberadaan mereka (para pemimpin itu) cenderung menjadi sebab bangsa ini tidak maju-maju. Mereka cenderung jadi penghambat kemajuan!&#8221;</p>
<p>”Para pejabat, yang duduk di kursi empuk kekuasaan itu, seolah nyaman di kursi mereka. Di mata masyarakat desa, mereka sesungguhnya tidak terlalu dibutuhkan. Wujuduhu ka adamihi. Ada atau tidaknya mereka, terkadang tidak terlalu dibutuhkan. Bahkan, dengan lebih sinis harus saya katakan, bahwa kebijakan-kebijakan yang mereka buat, justru mengganggu aktivitas dan kehidupan masyaarakat desa.”</p>
<p>Salahkah saya?</p>
<p>(Sudah dimuat di majalah Khalifah edisi Juni 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/sejuta-maaf-kepada-para-anggota-parlemen-menteri-menteri-dan-presiden/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Behaviour Flexibility</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/behaviour-flexibility/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/behaviour-flexibility/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 03:19:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/behaviour-flexibility/</guid>
		<description><![CDATA[Sediakan sebuah palu. Sediakan juga satu buah gelas. Kemudian, pukulkan palu pada gelas. Apa yang akan terjadi?
Gelas pasti akan pecah dan hancur berkeping-keping. Hanya dalam sekali pukul. Dan setelah hancur, gelas itu sudah tidak ada gunanya lagi!
Selanjutnya, ambillah sebatang besi. Gunakan kembali palu itu untuk memukul besi sekuat tenaga. Apa yang terjadi?
Besi tidak hancur. Bahkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sediakan sebuah palu. Sediakan juga satu buah gelas. Kemudian, pukulkan palu pada gelas. Apa yang akan terjadi?<span id="more-88"></span></p>
<p>Gelas pasti akan pecah dan hancur berkeping-keping. Hanya dalam sekali pukul. Dan setelah hancur, gelas itu sudah tidak ada gunanya lagi!</p>
<p>Selanjutnya, ambillah sebatang besi. Gunakan kembali palu itu untuk memukul besi sekuat tenaga. Apa yang terjadi?</p>
<p>Besi tidak hancur. Bahkan, nyaris tidak berubah. Para penempa besi, memanaskan besi dengan cara membakarnya hingga merah membara, kemudian memukulkan palu berulang-ulang, sampai akhirnya sepotong besi yang semula nyaris tidak ada gunanya, berubah menjadi barang-barang yang fungsional seperti pisau, golok, arit dan sebagainya.</p>
<p>Para penempa besi itu, telah memberi nilai tambah pada besi. Sepotong besi yang semula relatif murah harganya, berubah menjadi produk yang harganya cukup tinggi dan dibutuhkan manusia.</p>
<p>Dua percobaan sederhana itu menjelaskan sebuah fenomena yang dikenal sebagai kelenturan perilaku (behaviour flexibility) seperti ini :</p>
<p>1. Mengapa ada orang yang sukarela mengakhiri hidup dengan menggantung diri ketika tidak lulus ujian, sedangkan di sisi lain ada orang yang menerima kondisi itu dan mencoba mengulang di tahun berikutnya?</p>
<p>2. Mengapa ada kasus perselisihan gara-gara uang receh, sedangkan di sisi lain ada orang yang tetap tersenyum ketika ditimpa bisnisnya rugi milyaran rupiah?</p>
<p>3. Mengapa ada orang yang kebal kritik, tetapi di sisi lain ada orang yang sedikit tersinggung, golok bicara &#8230;</p>
<p>Respon manusia terhadap suatu kejadian, secara ekstrim bisa digambarkan seperti gelas dan besi. Mereka yang bermental gelas, adalah mereka yang cengeng. Pukulan ringan saja, sanggup menghancurkan mereka berkeping-keping. Kegagalan kecil bisa membuat mereka berhenti mencoba. Tawaran sedikit keuntungan saja bisa membuat mereka berkhianat.</p>
<p>Mereka yang memiliki kekuatan mental mengagumkan, adalah manusia-manusia besi yang tahan banting. Aneka pukulan berat, panas yang membakar plus proses pergesekannya dengan batu asah, menjadikan mereka manusia-manusia yang bernilai tinggi. Seberat apapun pukulannya, tidak mampu menghancur-leburkan mereka. Sepanas apapun apinya, tidak membuat mereka lumer. Pergesekan dengan benda lain justru mempertajam kereka.</p>
<p>Mereka yang bermental besi, sangat yakin bahwa pukulan, pemanasan atau pergesekan, bukanlah cara Tuhan untuk menghancurkan mereka. Itulah ujian yang akan membuat mereka bertambah kuat.</p>
<p>So, pembaca. Mental anda seperti gelas atau besi?</p>
<p>(Sudah dimuat di rubrik Inspirasi, halaman 2 Harian Semarang, 5 Juni 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/behaviour-flexibility/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Surat dan Tukang Pos</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/surat-dan-tukang-pos/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/surat-dan-tukang-pos/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 04:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/surat-dan-tukang-pos/</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan kejadian seperti ini terjadi pada kita. Kita sedang duduk santai di suatu pagi yang cerah di hari libur, sambil menikmati secangkir kopi hangat dan sepiring pisang goreng buatan istri tercinta. Tiba-tiba datang seorang tukang pos yang menyerahkan sepucuk surat dengan cara dilempar &#8230;
Asal tahu saja, inilah pelajaran pertama yang saya dapat dari guru kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangkan kejadian seperti ini terjadi pada kita. Kita sedang duduk santai di suatu pagi yang cerah di hari libur, sambil menikmati secangkir kopi hangat dan sepiring pisang goreng buatan istri tercinta. Tiba-tiba datang seorang tukang pos yang menyerahkan sepucuk surat dengan cara dilempar &#8230;<span id="more-86"></span></p>
<p>Asal tahu saja, inilah pelajaran pertama yang saya dapat dari guru kehidupan saya, seorang atheis asal Yugoslavia yang sudah menjadi warga negara Australia. Saya memanggilnya Mirek.</p>
<p>Ia lebih sering melontarkan pertanyaan kontemplatif daripada memberikan pernyataan yang menggurui. Untuk hal di atas, ia bertanya, mana lebih penting, memarahi atau menggebuki tukang pos atau membaca pesan dalam surat?</p>
<p>Jawaban sadar saya atas pertanyaan itu, tentu saja yang terpenting adalah membaca pesannya. Bahkan dengan sombongnya saya mengatakan, baca suratnya, lupakan tukang posnya!</p>
<p>Tetapi jawaban seperti itu lebih sering ada pada tataran teori. Pada prakteknya, akan ada banyak respon, yang tergantung pada kebiasaan. Bisa jadi kita bertanya padanya, mengapa dilempar? Mungkin kita marah-marah dan menuding sang tukang pos tidak sopan. Atau lebih parah lagi. Kita bangkit dari duduk dan langsung menggebukinya. Pesan penting yang tertulis dalam suratnya, bisa jadi terlupakan!</p>
<p>Begitu banyak kejadian, yang membuat kondisi semakin memburuk, justru karena kita lebih fokus pada tukang pos. Dalam berbagai kasus, saya lebih sering lupa membaca isi pesan, karena lebih fokus pada ketidak-sopanan si tukang pos. Kalau ingat pelajaran ini, saya jadi sering tertawa sendiri. Betapa seringnya saya bertindak begitu bodohnya.</p>
<p>So, kalau hari ini atau esok lusa, ada seseorang menyumpah-serapahi anda, atau membuat anda sakit hati karena dihina, ingatlah pelajarannya. Fokuslah untuk membaca isi pesan dalam surat. Jangan fokus pada kemarahan karena tukang pos sudah berlaku kurang sopan!</p>
<p>(Sudah dimuat di rubrik Inspirasi Harian Semarang, Sabtu, 22 Mei 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/surat-dan-tukang-pos/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Masa Silam</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/pelajaran-dari-masa-silam/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/pelajaran-dari-masa-silam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 01:32:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/pelajaran-dari-masa-silam/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika para founding fathers berniat mendirikan sebuah Negara bernama Indonesia, referensi yang mereka cari bukanlah masa penjajahan Belanda selama 350 tahun, atau masa penjajahan Jepang selama 3,5 tahun.  Referensinya adalah kebesaran bangsa ini lebih dari 5000 tahun yang lalu.
Itulah sebuah masa, dimana bangsa ini begitu sadar tentang potensi dirinya.  Budayanya begitu tinggi.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-83"></span>Ketika para founding fathers berniat mendirikan sebuah Negara bernama Indonesia, referensi yang mereka cari bukanlah masa penjajahan Belanda selama 350 tahun, atau masa penjajahan Jepang selama 3,5 tahun.  Referensinya adalah kebesaran bangsa ini lebih dari 5000 tahun yang lalu.<!--more--></p>
<p>Itulah sebuah masa, dimana bangsa ini begitu sadar tentang potensi dirinya.  Budayanya begitu tinggi.  Imperium dagangnya bukan hanya melingkupi nusantara, tetapi meluas sampai Andalusia.  Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit adalah legenda.  Hubungan diplomatik dengan negeri lain terjalin sebagai hubungan yang setara.  Beberapa lembar surat antara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan raja Sriwijaya Shri Indravarman adalah saksi sejarah tak terbantah di museum Spanyol.</p>
<p>Negeri ini menyimpan begitu banyak potensi.  Wilayahnya luas.  Tanahnya subur. Letaknya strategis.  Pemandangannya eksotis.  Sumber daya alam di dalam bumi dan lautnya melimpah.  Itulah mengapa Jengis Khan, Columbus, Marcopolo bersambung pada bercokolnya Belanda dan Jepang dalam waktu yang sangat lama di sini.  Negeri ini sudah jadi madu sejak dulu.</p>
<p>Pelajaran masa lalu itu, kemudian tersarikan dalam sepotong semboyan Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa.  Inilah sebuah bangsa yang dibangun di atas aneka perbedaan, tetapi semua aktivitas (dharma) ditujukan untuk perbaikan dan kebaikan bangsa, dan mengesampingkan perbedaan yang ada.  Dan atas dasar itu kita merdeka.</p>
<p>Manajemen modern mengenal konsep GIGO.  Garbage in garbage out.  Kalau yang masuk sampah, yang keluar pasti sampah.  Dan sampai proklamasi kemerdekaan, bisa jadi para founding fathers tidak salah mengambil referensi.</p>
<p>Lebih dari 65 tahun sudah berlalu.  Dan negeri ini masih seperti yang dulu.  Negeri ini masih jadi madu.  Berbagai negara berupaya mencicipinya, walau tidak dengan cara-cara lama.  Sayangnya, kita hanya berhenti pada kesadaran, bahwa negeri ini masih berlimpah sumber daya.  Ijo royo-royo.  Gemah ripah loh jinawi.</p>
<p>Sepertinya kita masih belum sadar, bahwa modal sumber daya membutuhkan sentuhan tangan kita sebagai pengelolanya.  Bukan tangan bangsa lain.  Dan GIGO kembali menunjukkan tajinya.  Apa yang kita jalani sampai saat ini, bisa jadi karena kita memasukkan sampah ke dalam sistem kita berbangsa dan bernegara.  Dan inilah sebagian hasilnya : pengangguran dimana-mana, hutang bertumpuk dan korupsi meraja-lela.</p>
<p>Sepertinya, kita mesti kembali belajar dari pengalaman sejarah masa lalu.  Bukan hanya sekedar mengenang kejayaan para pendahulu kita, tetapi juga dengan mencontoh perilaku mereka.  Patih Gajahmada rela menunda kesenangan menikmati palapa, sebelum mempersatukan nusantara di bawah Majapahit.  Bung Hatta rela menunda menikah, sebelum Indonesia merdeka.</p>
<p>Pengalaman, baik yang kita alami sendiri, maupun yang dialami oleh orang lain adalah guru terbaik.  Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi murid yang terbaik?</p>
<p>(Sudah dimuat di majalah Khalifah edisi Mei 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/pelajaran-dari-masa-silam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sigit</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/sigit/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/sigit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 22:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/sigit/</guid>
		<description><![CDATA[Dia akrab dipanggil Sigit.  Belasan tahun lalu, dengan susah payah ia lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah.  Bayangkan saja.  Masa kuliah yang normal 4 tahun, ia selesaikan dalam waktu 8 tahun.  Indeks Prestasi, yang menjadi ukuran kelulusannya, maaf – cuma 2,1 dari maksimal 4.
Dia akrab dipanggil Sigit.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dia akrab dipanggil Sigit.  Belasan tahun lalu, dengan susah payah ia lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah.  Bayangkan saja.  Masa kuliah yang normal 4 tahun, ia selesaikan dalam waktu 8 tahun.  Indeks Prestasi, yang menjadi ukuran kelulusannya, maaf – cuma 2,1 dari maksimal 4.<span id="more-79"></span></p>
<p>Dia akrab dipanggil Sigit.  Dia adik kelas saya di Fakultas Peternakan. Dalam bahasa matematika, kami beririsan di satu nama, Joko Santoso.  Ketika itu, beliau adalah Pembantu Dekan I.   Kami berdua bisa lulus dari Fakultas Peternakan atas campur tangan beliau.  Bedanya, saya relatif cepat, Sigit lulus di injury time &#8230;</p>
<p>Dia akrab dipanggil Sigit. Ia memulai aktivitas sebagai pemulia kedelai sejak masih kuliah. Awalnya hanya ikut-ikutan, karena kakaknya adalah peneliti kedelai. Witing tresno jalaran soko kulino, kata pepatah Jawa. Seringnya berinteraksi, membuatnya jatuh cinta pada kedelai. Ia tidak lagi asal kerja. Aktivitasnya mulai diikat oleh satu visi besar. Menemukan bibit kedelai unggul.</p>
<p>Dia akrab dipanggil Sigit.  Ia menyeleksi ratusan jenis bibit kedelai di tanah air. Dapat sekitar 70 varietas, yang memiliki keunggulan masing-masing. Mulailah ia melakukan pekerjaan gila!</p>
<p>Gila? Ya.  Pekerjaan yang dilakukan memang pekerjaan gila. Di lapang, pembuahan kedelai umumnya terjadi secara alami, atas bantuan serangga atau angin. Tapi untuk mendapatkan varietas jenis baru, Sigit harus mengawin-silangkan satu varietas dengan varietas lain secara manual. Mengantarkan serbuk sari dari satu varietas ke putik varietas lain, dengan tangannya sendiri. Tanpa alat bantu!</p>
<p>Dunia pemuliaan (tanaman maupun hewan) bergerak di antara harapan dan ketidak-pastian.  Tidak ada satu pun pakar yang berani memastikan, kapan satu bibit unggul didapatkan.  Bisa lima tahun.  Bisa sepuluh tahun.  Bahkan bisa jadi, si peneliti sudah meningggal, si bibit unggul belum ditemukan.  Sungguh pekerjaan ’gila’.  Tidak semua orang bersedia melakukannya &#8230;</p>
<p>Lebih gila lagi, karena untuk melakukan itu, tidak ada seorang pun yang membayarnya. Bahkan ia harus merogoh koceknya sendiri dalam-dalam. Total jenderal, ia sudah menghabiskan dana sekitar 300 juta, untuk mengembangkan satu varietas yang diberinya nama Mulyowillis. Ia temukan varietas ini, dalam waktu lebih dari 5 tahun.  Inilah satu-satunya varietas kedelai yang sudah dipatenkan di negeri ini. Dan ia masih menyimpan beberapa varietas kedelai unggul lain di kepalanya.</p>
<p>Mulyowillis adalah bukti bahwa ketekunan bisa mengalahkan ketidak-cerdasan. Sigit tahu persis, sulit baginya bersaing di dunia kerja, karena IP yang pas-pasan. Senjata ketekunan, yang jarang dimiliki oleh orang-orang cerdas di negeri ini, digunakannya secara efektif.</p>
<p>(Sudah dimuat di Harian Semarang Edisi Sabtu, 8 Mei 2010, halaman 2, rubrik Inspirasi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/sigit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rekonstruksi Sya&#8217;labah</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/rekonstruksi-syalabah/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/rekonstruksi-syalabah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 03:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sejarah kehidupan Rasulullah, ada  miskinnya,  sampai-sampai setelah shalat berjamaah, ia harus buru-buru kembali ke  rumah tanpa berzikir, mengingat perangkat shalatnya juga akan dipakai  istrinya. Berulang-kali ia bertemu Rasulullah dan minta didoakan agar  diangkat dari kemiskinan.  Singkat cerita, Rasulullah pun mendoakannya.   “Ya Allah, karuniakanlah kekayaan kepada Sya’labah.”

Dikisahkan, Sya’labah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sejarah kehidupan Rasulullah, ada  miskinnya,  sampai-sampai setelah shalat berjamaah, ia harus buru-buru kembali ke  rumah tanpa berzikir, mengingat perangkat shalatnya juga akan dipakai  istrinya. Berulang-kali ia bertemu Rasulullah dan minta didoakan agar  diangkat dari kemiskinan.  Singkat cerita, Rasulullah pun mendoakannya.   “Ya Allah, karuniakanlah kekayaan kepada Sya’labah.”<br />
<span id="more-76"></span><br />
Dikisahkan, Sya’labah mendapat bantuan sepasang domba, yang kemudian  berkembang-biak dan menjadi banyak.  Dan domba-domba itu lah yang  mengangkat status sosial Sya’labah.  Ia tidak miskin lagi.  Sampai di  sini, saya punya pertanyaan.  Apakah ternak Sya’labah  berkembang cepat  karena doa Rasulullah?</p>
<p>Dari sisi spiritual, saya sangat yakin bahwa doa Rasulullah pasti  dikabulkan.  It’s a matter of time.  Hanya soal waktu.  Tentu saja  dengan satu syarat.  Saat ini hampir tidak ada lagi keajaiban. Orang  yang didoakan juga harus berusaha.  Allah pasti berikan harta kepada  Sya’labah, melalui jalan-jalan yang wajar.  Tidak mungkin dengan  mengirimkan sekarung emas ke rumah Sya’labah.</p>
<p>Jalan kaya Sya’labah adalah memelihara domba.  Jalan ini pun harus  dilaluinya dengan cara-cara yang wajar.  Tidak melampaui hukum-hukum  alam.  Misalnya, domba betina baru bisa bunting paling cepat umur 12  bulan. Sebelum beranak, harus mengalami masa bunting sekitar 145 – 160  hari.  Anak yang dihasilkan sekali kelahiran maksimal 2 ekor.</p>
<p>Ini berarti, selain doa Rasul, Sya’labah kaya  karena kegigihannya.   Setiap hari ia mengurusi ternaknya.  Diberikannya kandang buat  domba-dombanya.  Di siang hari, ia menuntun peliharaannya ke padang  penggembalaan.  Kalau dombanya sakit, diobati.   Dombanya tidak beranak  setahun tiga kali, atau sekali beranak tidak sekaligus enam ekor.   Ketika induk dombanya beranak pertama kali, anak domba dipelihara terus  sampai dewasa.  Tidak langsung dijual untuk dinikmati hasil  penjualannya.  Ini terus dilakukan sampai beranak-pinak.  Semuanya wajar  dan masuk akal.</p>
<p>Apa yang ingin saya katakan dengan rekonstruksi legenda Sya’labah?   Tidak ada jalan pintas.  Untuk dapatkan sesuatu, seseorang harus melalui  prosesnya.  Bahkan untuk seseorang yang sudah didoakan Rasulullah.   Apalagi kita?</p>
<p>(Sudah dimuat di Rubrik Inspirasi - Harian Semarang, Sabtu, 17 April  2010)<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/rekonstruksi-syalabah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Peluang</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/hukum-peluang/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/hukum-peluang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 20:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman datang dan menyampaikan unek-unek pribadinya kepada saya.   Umurnya sudah hampir menyentuh angka 40 tahun, tetapi sampai sekarang  ia masih belum mendapatkan jodoh.

Saya bertanya, sudah menentukan, kriteria calon istri anda?  Perempuan,  masih gadis, wajahnya cantik, dari keturunan baik-baik dan taat  beribadah.  Ia menyebut beberapa kriteria.  Kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang teman datang dan menyampaikan unek-unek pribadinya kepada saya.   Umurnya sudah hampir menyentuh angka 40 tahun, tetapi sampai sekarang  ia masih belum mendapatkan jodoh.<br />
<span id="more-73"></span><br />
Saya bertanya, sudah menentukan, kriteria calon istri anda?  Perempuan,  masih gadis, wajahnya cantik, dari keturunan baik-baik dan taat  beribadah.  Ia menyebut beberapa kriteria.  Kalau bisa ditambah lagi,  sang calon adalah anak tunggal dan orang tuanya kaya-raya!  Tentu saja.   Itu kriteria ideal.  Kalau ada perempuan seideal itu, saya juga mau  tambah satu lagi, seloroh saya.</p>
<p>Saya sampaikan padanya 3 jurus mencari jodoh.  Pertama, berusaha.   Kedua, berdoa.  Dua hal ini, sudah dilakukannya.  Selama belasan tahun  ia sudah berusaha, dan tentu saja diikuti dengan doa.  Kalau dua hal itu  sudah dilakukan tapi belum dapat juga, berarti ia belum melakukan jurus  ketiga.  Apa itu?</p>
<p>Berkaca!  Siapapun berharap dapat jodoh ideal, tidak ada yang salah.  Tapi sudahkah anda membuat diri anda jadi ideal bagi calon istri anda?   Ini hal penting. Kita membuat syarat terlalu banyak untuk calon istri,  tapi seringkali lupa, bahwa calon istri itu pun punya syarat-syarat  tersendiri untuk calon suaminya. Dan dari eksplorasi pengalaman ini,  saya menemukan ‘Hukum Peluang’.</p>
<p>Hukum peluang itu berbunyi : ’Besarnya peluang berbanding terbalik  dengan jumlah syarat yang harus dipenuhi’.  Bagaimana penjabarannya?</p>
<p>Dalam kasus di atas, peluang untuk mendapatkan jodoh akan mencapai titik  terbesar kalau tidak ada syarat yang harus dipenuhi.  Ini berarti,  siapa saja! Peluangnya akan mengecil kalau syarat-syaratnya ditambah.   Semakin banyak tambahannya, semakin kecil peluangnya.</p>
<p>Sampai sedemikian kecilnya, sampai-sampai kawan saya tadi belum ketemu  jodoh di usia menjelang 40 tahun.  Bukannya mendahului Tuhan.  Jangan-jangan, jika ia tetap pada syarat-syarat idealnya, dan tidak  mencoba kompromi, saya kok jadi khawatir, sampai ajal menjemput, ia  tidak akan ketemu jodohnya!</p>
<p>Hukum peluang ini, ternyata bukan hanya untuk urusan jodoh.  Hukum ini  berlaku universal.  Mengapa banyak orang tidak mampu mencapai  cita-citanya?  Bisa jadi karena yang bersangkutan menetapkan banyak  syarat seperti mendapat beasiswa, banyak yang bantu, atau mudah dicapai.</p>
<p>Mengapa seseorang sampai betah belasan tahun menganggur?  Bisa jadi  karena ia mau bekerja jika pekerjaannya mudah dilakukan, gajinya besar,  cepat naik pangkat, fasilitas bagus atau jam kerja singkat.</p>
<p>Memang enak memulai sesuatu dengan kondisi yang ideal.  Tetapi jika  kondisi ideal tidak bisa kita peroleh, beranilah untuk memulai dari  kondisi yang ada.  Jangan tetapkan banyak syarat.  Be realistic &#8230;</p>
<p>(Sudah dimuat di rubrik Inspirasi di Harian Semarang,<br />
Sabtu, 3 April 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/hukum-peluang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nganggur?  Malu Sama &#8230;&#8230;!</title>
		<link>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/nganggur-malu-sama/</link>
		<comments>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/nganggur-malu-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 01:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zainalabidin.niriah.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[ 

Saya adalah satu dari sekian banyak orang di negeri ini, yang merasa risau dengan semakin tingginya angka pengangguran di tanah air. Bayangkan saja. Tahun 1997 jumlah pengangguran terbuka di tanah air hanya 4,18 juta, dan di akhir 2008 sudah mencapai 9,39 juta. Bahkan, pada tahun 2003, angkanya menembus 11,35 juta. Ini berarti bahwa selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Saya adalah satu dari sekian banyak orang di negeri ini, yang merasa risau dengan semakin tingginya angka pengangguran di tanah air.<span> </span>Bayangkan saja.<span> </span>Tahun 1997 jumlah pengangguran terbuka di tanah air hanya 4,18 juta, dan di akhir 2008 sudah mencapai 9,39 juta.<span> </span>Bahkan, pada tahun 2003, angkanya menembus 11,35 juta.<span> </span>Ini berarti bahwa selama bertahun-tahun, kita belum mampu mengatasi jumlah pengangguran secara menyeluruh.<span lang="SV"><span id="more-68"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Ada banyak alasan, mengapa sampai kini angka pengangguran belum bisa kita kikis habis.<span> </span>Misalnya saja, laju pertambahan lapangan kerja masih belum bisa mengimbangi kencangnya pertambahan jumlah angkatan kerja.<span> </span>Para ahli ekonomi mengatakan, pertumbuhan ekonomi belum cukup mampu membuka banyak lapangan kerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Saya punya jawaban lain, mengapa jumlah pengangguran tidak kunjung berkurang, bahkan cenderung terus meningkat.<span> </span>Ada dua alasan besar, mengapa para penganggur itu tidak kunjung mendapat pekerjaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Alasan pertama, pekerjaannya ada, tetapi tidak ada yang membayar.<span> </span>Misalnya, pekerjaan mengumpulkan sampah di jalan, membersihkan selokan dan sebagainya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Alasan kedua : Pekerjaannya ada, yang membayar upahnya ada, tetapi yang bersangkutan tidak mau melakukan pekerjaan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Untuk alasan kedua, saya punya pengalaman. <span> </span>Beberapa kali saya dititipi surat lamaran oleh beberapa orang.<span> </span>Siapapun mereka, lulusan sekolah apapun mereka, pertanyaan saya standar.<span> </span>Mau jadi tukang cuci piring?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Aha.<span> </span>Biasanya mereka kaget mendengar pertanyaan saya.<span> </span></span><span lang="FI">Sarjana kok disuruh jadi pencuci piring. <span> </span>Dan biasanya pula, proses lamaran berhenti sampai di situ.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Perhatikan iklan-iklan lowongan pekerjaan di berbagai surat kabar.<span> </span>ternyata banyak sekali lowongan pekerjaan.<span> </span>Sayangnya, jarang sekali orang yang bersedia mengisi lowongan itu, karena sebagian lowongan kerja itu adalah menjadi tenaga penjual.<span> </span>Dan pekerjaan penjual, adalah pilihan terakhir, ketika seseorang sudah tidak punya pilihan lain.<span> </span>Mereka memilih jadi penganggur daripada harus jadi sales!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Hampir setiap hari, saya melintas jalan Casablanca di Jakarta.<span> </span>Di ruas tengah jalan itu, hampir selalu ada pemandangan yang inspiratif.<span> </span>Di ruas itu, ada cukup banyak monyet yang sedang mempertunjukkan keterampilannya.<span> </span>Dengan diiringi musik, sang monyet menari-nari.<span> </span>Dan, banyak pengemudi tersentuh untuk melemparkan uang receh.<span> </span>Aha!<span> </span>Monyet saja bica cari duit!<span> </span>Bukan hanya untuknya sendiri, tetapi juga bisa memberikan penghasilan kepada tuannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">So, buat para pengangguran di tanah air.<span> </span>Semoga ini jadi pengingat. Kalau anda masih menganggur, mohon maaf saja.<span> </span>Malu lah sama monyet!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">(Dimuat di Harian Semarang, Rubrik Inspirasi, Sabtu, 27 Maret 2010)<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zainalabidin.niriah.com/tips-bisnis/nganggur-malu-sama/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
